IDENTIFIKASI DAN ANALISIS RISIKO PADA PROSES PEMBAKARAN BATUBARA DI PLTU MENGGUNAKAN METODE HAZOP
Abstract
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batubara berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional Indonesia. Perubahan penggunaan batubara dari nilai kalor menengah ke kalori rendah memengaruhi kinerja pembangkit dan meningkatkan potensi risiko operasional, terutama pada sistem primary air fan dan pulverizer yang sangat bergantung pada kestabilan parameter proses seperti aliran, temperatur, tekanan, dan komposisi udara–batubara, di mana penyimpangan pada parameter tersebut dapat memicu bahaya serius, termasuk kebakaran pulverizer. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penyimpangan proses (deviation), penyebab (possible causes), dan konsekuensi (consequence) pada proses pembakaran batubara di PLTU, serta memberikan rekomendasi pengendalian risiko K3. Identifikasi bahaya dilakukan menggunakan metode Hazard and Operability Study (HAZOP) pada dua study node, yaitu Node 1 (alur penanganan batubara dari jetty unloading hingga burner/furnace) dan Node 2 (sistem udara pembakaran/air combustion system), dengan parameter flow, level, pressure, temperature, composition, operation, dan corrosion/erosion. Penilaian risiko dilakukan berdasarkan kombinasi likelihood dan severity yang divalidasi melalui expert judgement. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar risiko pada komponen seperti Ship-Unloader, Conveyor, Silo Bunker, Coal Feeder, Pulverizer, Primary Air Fan, Forced Draft Fan, dan Induced Draft Fan berada pada kategori risiko ringan hingga sedang, namun ditemukan beberapa penyimpangan dengan kategori risiko tidak dapat diterima, antara lain self-combustion akibat temperatur tinggi pada stockpile dan coal bunker, plugging/bridging batubara basah pada silo, serta penggumpalan batubara basah pada ship-unloader. Rekomendasi pengendalian risiko disusun berdasarkan hierarki pengendalian, meliputi pengendalian teknis (pembangunan coal shelter, pemasangan sistem monitoring temperatur), pengendalian administratif, dan penggunaan alat pelindung diri, guna menurunkan tingkat risiko ke kategori yang dapat diterima